Dan Bukan Doa Yang Mengancam


Hari itu aku dan beberapa orang sahabat berkumpul di rumah salah seorang sahabat kami. Sesuai rencana, kami akan berbuka puasa bersama. Dua kali sudah aku ke rumah sahabat ini, dan masih saja aku terkagum-kagum memandangi rumahnya yg besar, megah, dan begitu nyaman. Tak lama setelah kami semua datang, adzan Maghrib pun menyambut.

Setelah membatalkan diri dengan air putih, kurma dan cake yang lezat rasanya. Kami bersiap untuk sholat Maghrib berjamaah. Kami pun mengambil wudhu satu demi satu. Waktu itu aku janggung, Sebab kami seperti menebak-nebak siapa yang akan ditunjuk menjadi Imam. Diluar dugaan, sang tuan rumah langsung maju ke depan dan bersiap memimpin sholat. Hmm… sungguh orang kaya macam inilah yang dibutuhkan dunia. Tawadhu, ramah, sekaligus taat beribadah.

Assalamu alaikum wa rahmatullah…….” sholat pun ditutup. Setelah itu sang Imam menunjuk putranya untuk memimpin doa. Tak satu pun kata penolakkan dihaturkan. Munajat pun segera terluncur dari bibir pria berkaca mata itu. Bahasanya lugas dengan suara yang tak terlalu dalam. Memang jauh dari kesan berwibawa apalagi hipnotize. Namun dari situ aku mempelajari sesuatu yang baru. Bahwa struktur (redaksi) Doa orang kaya ternyata berbeda, dari kebanyakan orang yang kekurangan. Pelan-pelan ku perhatikan dan ku telaah ternyata struktur doa orang kaya sering menggunakan kata “lebih/tambahkan/kuatkanlah/perbanyaklah” sebagai perwujudan dari peningkatan suatu kualitas tertentu. Misalnya saja redaksi doa berbunyi, ”Ya… Allah. Perbanyaknya amalan kami” atau “Ya Rabb, kuatkanlah iman dan takwa kami kepada-Mu” atau “Ya.. Rahman, lebihkanlah rezeki kami, agar kami semakin dapat membantu saudara-saudara kami yang kekurangan”. Bila diperhatikan dengan seksama selain mengandung isi soal peningkatan kualitas, doa orang kaya juga menjelaskan atau mempaparkan alasan dibalik permintaannya atas peningkatan kualitas yang dimaksud. Biasanya ini ditandai dengan penggunaan kalimat “…agar kami dapat….” yang diucapkan setelah permintaan kualitas tertentu.

Dapat disimpulkan bahwa orang kaya meminta kepada Allah (baca: berdoa) sebagai sebuah sebab untuk mendatangkan akibat tertentu.

Dari situ saya akhirnya dapat mengerti, mengapa orang yang kaya bisa menjadi semakin kaya. Sebab mereka berdoa begitu logis, powerfully dan dengan memenuhi hukum sebab-akibat. (/dj)

Iklan
    • cungkrink
    • September 17th, 2010

    menginspirasi gw nih.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: