Mengenal Agnostisisme


Intro:
Sebuah Perbincangan yang menjadi selingan dalam sebuah perjalanan, membuat saya mengulik kembali soal agnostisisme dan agnostik.
Ini mungkin tak hanya pengalaman saya saja, bahwa ada di antara teman-teman kita yang menyatakan dirinya sebagai agnostik atau bahkan ateis. “I’m done with religion” begitu kata mereka.

Apa sih sebenarnya, agnostisisme itu?

Menurut Jeng Wiki, Agnostisisme secara harfiah berarti, “tanpa mengetahui”. Berasal dari perkataan Yunani, gnostein (tahu) dan a (tanpa/ tidak). Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang-Mutlak”; atau , dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi.

Seorang agnostik adalah yang berpikir bahwa keberadaan Tuhan tak dapat dibuktikan berdasarkan fakta-fakta yang ada sekarang, tapi tak mengingkari kemungkinan Tuhan itu ada. Yah, agnostik hanya selangkah dari ateis, yang berpikir tuhan tak ada. Jika keduanya (agonostik dan ateis) mendapati semak yang terbakar dan berbicara, “Aku adalah Aku”, si agnostik akan mencari tape rekorder yang mungkin saja tersembunyi sementara si ateis cuma mengangkat bahu pesimis lalu membakar marshmallow.
Menurut Sidi Gazalba, Agnostisisme adalah kependekan dari anti-agnostisisme. Agnostisisme adalah paham yg mengingkari pengetahuan dalam tentang agama. Seorang agnostik bersikap percaya tidak kepada Tuhan, tidak percaya pun tidak. Karena itu ia beragama tidak, tidak beragama pun tidak. Ia tidak mengacuhkan Tuhan dan tidak menghiraukan agama. Kedudukan paham ini adalah antara teisme dan ateisme.

Maju selangkah lagi agnostisisme sampai kepada ateisme. Agnostisisme merupakan penyakit dunia modern, sebagai akibat perkembangan kehidupan kota (dengan kemajuan industri yang serbaterus dengan materialisme (dalam pengertian sehari-hari) yang meningkat terus dan pemikiran rasional, postif dan materialisme ilmiah). Dalam kehidupan batin masih ada warisan (pengaruh) teisme, tapi dalam kehidupan lahir materilah yang mempengaruhi. Terjadilah “pembelahan kepribadian”, karena tidak ada keseimbangan antara kemajuan material yang digerakkan oleh ilmu dan teknologi modern dengan perkembangan rohani yang menjadi tugas agama. Maka rusaklah aktivitas budi dan hati, antara pikiran dan rasa. Hati masih mengakui Tuhan dan agama, tapi budi mengakui materialisme. Dalam gereja mereka percaya soal penciptaan Adam, di ruang Universitas mereka percaya kepada Darwin.

Istilah agnostisisme lebih banyak kita dengar sekarang daripada skeptisisme. Istilah ini mula-mula digunakan oleh Thomas Henry Huxley, tapi biasanya dihubungkan dengan nama Herbert Spencer. Spencer percaya bahwa pengetahuan mutlak tidak mungkin ada. Semua pengetahuan adalah nisbi dan tak mungkin misalnya melewati batas fakta-fakta benda, gerak, tenaga, dan kesadaran. Dan semuanya itu tidak lain dari lambang-lambang atau bentuk-bentuk dari “unknowable”. Dengan demikian agnostisisme Spencer tidak lain suatu bentuk positivisme yang tidak se-ekstrim Comte.
Berbeda dengan Spencer, Huxley mempergunakan istilah itu dalam lapangan yang lebih spesifik, yakni agama. Dengan istilah tersebut ia menunjukan kepada kepercayaan, bahwa sekalipun kita tahu kita tidak mungkin mengingkari adanya Tuhan, namun kita tidak tahu sedikit pun tentang sifat-Nya yang sesungguhnya.

Adapun Bertrand Russell mempergunakan istilah ini (agnotisisme) untuk menunjuk kepercayaan yang berada antara teis and ateis. Pemakaian Russell itu kita lanjutkan dengan memberikan pengertian sebagai berikut: Percaya tidak kepada Tuhan, tidak percaya pun tidak. Akibatnya: beragama tidak, tidak beragama pun tidak.
Bila saya melihat dewasa ini ada perubahan pengertian (Kesalahkaprahan) agnostisisme dan agnostik. Beberapa kaum urban begitu mudah menyatakan diri mereka agnostik. He’s an agnostic, and therefore he’s cool! Kedengarannya keren dan intelek. Atau setidaknya “kota banget”. Inilah sebuah fenomena ketika agnostik berubah menjadi sekedar gaya hidup yang ikut-ikutan. Apa iya orang yang menyatakan dirinya agnostik itu memahami makna agnostisisme. Atau jangan-jangan ini hanya sekedar: “Buat apa ambil pusing, apakah Tuhan ada atau tidak. Itu tidak penting, Sebab seandainya Tuhan itu “ada” maka akal budi tidak akan bisa mencerap sifatnya”.

Mari kembali menyelami pandangan Russell, Percaya tidak kepada Tuhan, tidak percaya pun tidak. Akibatnya: beragama tidak, tidak beragama pun tidak. Untuk sampai pada kesimpulan yang seperti ini menurut saya butuh sebuah proses (yang tak sebentar). Sebuah proses pencarian akan Tuhan dan Kebenaran. Sebuah perjalanan yang melibatkan sikap kritis dan bahkan skeptik.
Begitulah agnostik sejati, sebelum sampai pada posisinya (baca: sebagai agnostik), kerap melakukan sebuah perjalanan untuk menemukan jawaban akan kebenaran. Bahkan pada posisinya sekarang ini, mereka pun mungkin masih tetap mencari.

Agaknya berbeda dengan kebanyakan agnostik disekitar kita (setidak2nya yang pernah saya amati). Mereka menjadi agnostik, bukan karena telah melalui tahap-tahap pembuktian tertentu untuk mencari kebenaran. Kebanyakan dari mereka menjadi agnostik justru karena pilihan pragmatis, bahkan melibatkan sikap pengecut, pemalas,dan bahkan hipokrit. Mereka menyadari bahwa ketika harus memilih (baca: menyembah) Tuhan tertentu (Allah, Jesus, Budha, Dewa-dewa, dll), itu berarti ada konsekuensi yang harus dijalankan. Ada syariat (baca: cara-cara beribadah) tertentu yang harus dikerjakan. Ada nilai moral tertentu yang harus dipatuhi. Hal-hal “memberatkan” macam itu yang coba mereka hindari. Akhirnya mereka memilih posisi sebagai agnostik (yang tentu saja agnostik yang cupu, agnostik bo’ong-bo’ongan). Untuk orang-orang semacam ini saya lebih senang menyebut mereka dengan sebutan munafik.

Kesimpulan:
Tidak semua dari mereka yang mengaku sebagai agnostik adalah agnostik sejati, yang telah sebelumnya melakukan berbagai usaha untuk mencapai kebenaran, yang karena suatu sebab dan lainnya mereka gagal menemukannya, sehingga mereka bertahan pada posisi mereka sebagai agnostik.

Referensi:

Gazalba, Sidi. “Sistematika Filsafat”, Jakarta: Bulan Bintang. Buku Pertama dan Buku Ketiga.
http://www.geocities.com/area51/dunes/5591/dic/agnostik.htm
http://gentole.wordpress.com/2008/01/14/anda-mengaku-agnostik/
http://en.wikipedia.org/wiki/Agnosticism
http://politikana.com/baca/2009/04/21/agnostik-ateis.html
http://insistnet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=101&Itemid=54
http://insistnet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=54
Gambar: http://farm4.static.flickr.com/3098/3137972457_7205bf3bc5.jpg

Iklan
  1. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.Minal ‘aidin wal faizin.
    Setulus hati kami sampaikan Mohon Maaf Lahir dan Batin , untuk kesalahan dalam tulisan ataupun dalam komentar kami dan segala hal yang mungkin tidak berkenan di hati saudaraku tercinta , yang selama ini bersama sama dalam canda ria dalam tali persahabatan yaitu dalam satu wadah kebersamaan yang indah dari berbagai Suku , Ras dan Agama yang berbeda ! tapi tetap kokoh dalam Cinta , Damai , dan Kasih Sayang.

    • Amin.. doa-nya.
      oiya, selamat idul fitri 1430 H. mohon maaf lahir dan batin ya..

    • Mas Kopdang
    • September 25th, 2009

    Bukannya agnostik kebanyakan (setidaknya) adalah sikapapatis pada para “penyembah” yang berperilaku tak sesuai selera kebaikan dan kebenaran normatif.

    “ngapain berTuhan,kalau masih ini itu..?”

    begitulah kira-kira. harap maklum.
    🙂

  2. Saat ini kecenderungan pragmatis menguat. Dan itu memang bukan agnostik sejati.Proses pencarian diri berhenti, mungkin karena berbagai alasan. Lalu mengklaim bersikap agnostik. Sejatinya, seorang agnostik berproses terus menerus.

  3. Salam kenal.

    Saya dilahirkan dalam keluarga Muslim taat. Saya dibesarkan dengan ‘prinsip’ bahwa agama tidak bersifat dialektika, dan cenderung waktu kecil saya ‘dicekoki’ ajaran agama begini begitu begitu begini.

    In short, perkenalan saya dengan ideologi feminisme, kala usia saya menginjak pertengahan tiga puluh tahunan, jalan pikiran saya yang rebellious mulai berfikir bahwa tidak hanya kultur patriarki ini yang bersifat socially constructed, namun juga agama. Saya lambat laun mulai melabeli diri sebagai seorang Muslim sekuler. Namun ternyata saya jauh lebih sering merasa skeptis pada keberadaan-Nya, meski pada saat-saat tertentu, pernyataan yang keluar dari mulut saya menunjukkan saya masih beriman padaNya. Misal, tatkala berbincang tentang rejeki, saya lebih mengimani prinsip “rejeki tiap orang itu telah diatur oleh sang Maha Pencipta.”

    Beberapa bulan terakhir ini (tahun 2003 saya mulai ‘berkenalan’ dengan ideologi feminisme) dan akhirnya melabeli diri sebagai seorang agnostik; persis seperti yang anda tulis di postingan ini: percaya penuh adanya Tuhan => engga, tidak percaya sepenuh hati bahwa Dia ada, juga tidak.

    Nevertheless, saya yakin saya masih akan meneruskan perjalanan spiritual saya. Bisa jadi saya tidak akan berhenti pada tataran agnostik.

    http://afeministblog.blogspot.com
    http://nana-podungge.blogspot.com

    • wow.. pengakuan yang jujur sekali.
      salam kenal kalau begitu dari saya. 😀

  4. Lewat blog saya ungkapkan semua kegelisahan saya tentang spiritualitas ini, karena saya merasa begitu sendiri.

    Ketika mulai berkenalan dengan milis Sastra Pembebasan, saya bertemu dengan orang-orang yang hampir sejenis saya (meski hanya saya satu-satunya yang “berangkat dari” Islam), saya mulai merasa tidak weird.

    Mulai tahun lalu, saya mulai banyak berteman dengan mereka yang melabeli diri sebagai spiritualis di FB, wow…. it is amazing!!!

    SAYA TIDAK SENDIRIAN TERNYATA!

    ^_^

    • Willy
    • Maret 10th, 2011

    Salam kenal dan hangat

    Saya juga dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat saking taatnya terkadang orang tua memukul saya ataupun kakak dan adik saya jika saya tidak menunaikan ibadah shalat, namun semakin beranjak dewasa saya pun berpikir keras dan dalam mengenai 1. Tuhan itulah awal saya menjadi seorang ‘Agnostik’ seperti sekarang ini sempat terlintas pertanyaan-pertanyaan dalam otak saya tentang-Nya yang mungkin memojokan diri-Nya sehingga kata ‘Tuhan’ itu hilang dari kepercayaan saya (disingkat aja ya panjang soalnya hehe) masih berkutat tentang Tuhan saya mempertanyakan agama yang selama ini saya anut dan yakini yaitu ‘Islam’ saya sering bertanya dan berpikir dalam hati bahwa agama yang saya anut itu adalah ajaran orang tua sebuah doktrin dari orang tua yang diajarkan nenek dari neneknya nenek nenek dari nenek neneknya nenek dst saya semakin berpikir keras dan bergumam serta berkesimpulan bahwa ‘Agama’ adalah tidak lebih dari dongeng-dongengan nenek moyang yang belum tentu keasliannya kebenarannya dsb haha cerita belum sampai disini Tuhan langsung menegur saya dengan 2 cara selama 1 detik melalui (dirahasiakan) dan membuktikan kalau Dia memang ada singkat cerita setelah bertahun-tahun saya menjadi Ateis akhirnya itulah yang membuat saya lebih cinta kepada-Nya lebih sering bersyukur kepada-Nya lebih sering mengingat-Nya di setiap waktu namun saya masih berpikir keras tentang agama dan saat itu saya sempat kembali menjadi muslim yang taat dan mengerjakan seluruh ibadah-Nya namun persoalan yang ke 2. Agama itu sendiri lah yang membuat saya menjadi Agnostik Sejati saat ini karena saya terlalu mendalami AL-Quran sehingga sempat terpikir oleh otak dan pikiran saya bahwa banyak kelemahan-kelemahan dalam Al-Quran dan Hadits (dulu semasa kecilpun saya belajar Al-Kitab saat berumur 5-10 tahun) sehingga kedua kitab itulah yang akhirnya meragukan pikiran dan hati saya karena kelemahan-kelemahan kitab-kitab suci agama tersebut terlebih perang-perang dan kekerasan antar agama sering membuat saya semakin ill feel dengan agama yang hanya menciptakan perbedaan dan peperangan dan akhirnya saya memutuskan menjadi seorang Agnostik untuk saat ini dan mungkin untuk selamanya (disingkat ya om kalau mau sharing saja ketemu langsung hehe)

    Tertanda,

    Willy

    • wahhh … ternyata agnostik yang berangkat dari Islam tak hanya aku 🙂
      tapi, eh, di efbe, aku juga kenal seseorang yang juga seorang agnostik dan berangkat dari Islam. di salah satu statusnya, dia menulis, satu-satunya hal yang sangat dia sesali ketika mengingat ayahnya yang sudah meninggal adalah dia tak sempat membuat ayahnya murtad dari ajaran Islam. 🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: